Postingan

Manusia Menulis

Yailah Kampus

Gambar
Dalam sebuah bilik masing-masing dengan latar tembok yang berbagai macam warna, kami dipersatukan oleh aplikasi komunikasi paling hits dikalangan kami, yaitu Zoom. Bisa menampakkan wajah, mengeluarkan bunyi, dan fitur lain yang cukup untuk diskusi dan ketawa-ketiwi. Dalam satu bahasan diskusi bermunculan berbagai macam judul, ada tentang perkuliahan, pemenuhan tugas, penyepelean situasi, hingga penyesuaian diri. Perlu diketahui: saat itu adalah masa awal virus corona berdampak langsung pada keseharian kami dikampus. Lanjut bahasan, permagangan, bimbingan skripsi dan tugas akhir, seminar proposal, proker berjalan, dialog jurusan, virus corona sampai kapan, tahun periodesasi, pemira gimana, pedagang kantin gak jualan, pacaran-pacaran, semprot-semprot disinfektan, turunkan standar, sesuaikan ekspektasi, nih ditimbih ligi idi viris cirini. Beberapa bahasan ada yang sudah terjawab dan ada juga yang belum terjawab. Berikut ilustrasi percakapan jawaban atau jawaban yang mungkin se...

Kesamping Kebawah

Gambar
Saya takut, saya gamang, saya khawatir, dan saya cemas. Tidak pulang ke kampung halaman, orang lain banyak pulang dan takutnya menyebarkan, tugas PJJ yang harus selalu diselesaikan, UTS dengan pola pengerjaan yang mesti disesuaikan, berita pemerintah "santuy" mengeluarkan kebijakan, pengamat menelaah yang terjadi dimasa depan, video-video perihal akhir zaman, hingga kebucinan yang mengakibatkan kerinduan (pesan @ilhamalfajri_ lewat cover lagunya "Officially Missing You" ). Yailah. Di tulisan "Pejabat Santuy!" ada sedikit penggambaran ketidak cemasan pejabat terhadap virus ini. Namun, selain pejabat yang tidak merasa cemas, ternyata ada lapisan masyarakat yang juga tidak merasakannya, yaitu pedagang gerobak dorong yang mencari rezeki hari ini untuk hari ini, jasa sol sepatu, penjual guling keliling, penjaga pintu rel kereta api, pemulung yang tetap memulung tanpa alas kaki, dikala Jakarta sepi dari kerumunan, mereka ada di trotoar jalan membaw...

Pejabat Santuy!

Gambar
Saat paling gamang yang saya kira sudah berakhir ternyata kembali. Takut, khawatir, sunyi, kesepian, gamang dengan yang sedang dijalankan, dipilih, atau bahkan dipikirkan. Baru saja saya terlepas akan kegamangan itu. Tak seutuhnya lepas, tetapi saya sisakan sedikit agar saya juga masih memiliki rasa takut. Ya, kegamangan itu terjadi setahun lalu setelah saya memutuskan untuk mengambil langkah cepat, diawal perkuliahan dihari senin semester genap, dihari itulah keputusan tersebut dipilih dan langsung menjadi bulat dengan segala keadaanya, dengan planning yang tidak matang kegangamangan itu muncul setelahnya, dari mulai masalah yang bermunculan atas keputusan senin itu, kepala nyut-nyutan, otak saya dipacu untuk terus berfikir solutif yang tak jelas benar salah baik buruknya, sepi yang mengoyak, bahkan untuk tidur pun kepala saya menolak. Disaat-saat itu saya memutuskan untuk pergi kemanapun yang saya inginkan, meninggalkan segala yang mengikat dan mencari pandangan yan...

Manusiawi

Gambar
Manusiawi adalah kata yang sering kita dengar, bahkan mungkin sering kita ucapkan dengan konotasi yang beragam tergantung pada siapa yang memakainya. Jika kita menelaah imbuhan +wi pada kata manusiawi, merujuk pada kata sifat yang bermakna "mempunyai sifat manusia", sama halnya dengan kata duniawi "mempunyai sifat dunia", surgawi "mempunyai sifat surga", kimiawi "mempunyai sifat kimia". Penggunaan kata sifat ini yang perlu ditelaah lebih lanjut, apakah penggunaannya dapat mewakili sifat-sifat dari kata dasar yang diberikan imbuhan tersebut. Duniawi, kata ini merujuk pada sifat dunia yang bisa dimaknai tentang kehidupan atau keberlangsungan hidup, yaitu materi, ilmu pengetahuan, pekerjaan, sosial, transaksi ekonomi, dll. Surgawi, merujuk pada sifat surga, segala sesuatu yang berhubungan dengan surga atau dihubungkan dengan surga, yaitu tentang ibadah, kebermanfaatan, atau apa yang menjadi dasar perlakuannya dan menjadi dasar apa yang ...