Kesamping Kebawah

Saya takut, saya gamang, saya khawatir, dan saya cemas. Tidak pulang ke kampung halaman, orang lain banyak pulang dan takutnya menyebarkan, tugas PJJ yang harus selalu diselesaikan, UTS dengan pola pengerjaan yang mesti disesuaikan, berita pemerintah "santuy" mengeluarkan kebijakan, pengamat menelaah yang terjadi dimasa depan, video-video perihal akhir zaman, hingga kebucinan yang mengakibatkan kerinduan (pesan @ilhamalfajri_ lewat cover lagunya "Officially Missing You"). Yailah.

Di tulisan "Pejabat Santuy!" ada sedikit penggambaran ketidak cemasan pejabat terhadap virus ini. Namun, selain pejabat yang tidak merasa cemas, ternyata ada lapisan masyarakat yang juga tidak merasakannya, yaitu pedagang gerobak dorong yang mencari rezeki hari ini untuk hari ini, jasa sol sepatu, penjual guling keliling, penjaga pintu rel kereta api, pemulung yang tetap memulung tanpa alas kaki, dikala Jakarta sepi dari kerumunan, mereka ada di trotoar jalan membawa karung/ gerobak dan tetap memberikan senyuman, ojek online yang terus jalan untuk mencari makan, saya yakin mereka tetap memegang slogan #pastiadajalan. Yang saya sebutkan adalah yang saya temukan. Puji Tuhan, Tuhan memberikan pandangan.

Saya meyakini, mereka bukan tidak cemas akan virus corona ini, tetapi mereka menekan rasa cemas untuk dirinya sendiri. Mereka cemas akan keluarga yang ada di rumah, mereka cemas akan keluarga yang ada di kampung halaman, mereka cemas akan hidup hari ini, perut, biaya kontrakan, dan hal lain yang ada didepan. Saya membayangkan mereka yang masih berdagang, bagaimana bisa mereka merasa aman padahal saat kembali ke rumah, kemungkinan mereka carrier dan bisa menyebarkan ke anak dan istrinya, apakah selama wabah ini mereka tak pulang dan tetap terus dijalan? Dan bayangan-bayangan lain yang saya pun bingung kenapa membayangkannya. Yang pasti cemas akan corona adalah kecemasan baru dari cemas-cemas lain yang hidup lebih besar dan lebih dulu. Oleh karena itu, mereka tetap berjalan meski perlahan. Ironis bukan? Disaat yang sama anjuran #dirumahaja penting dan harus dilakukan. Saya tidak pantas cemas.

Melihat kebijakan tarif listrik PLN gratis bagi pelanggan 450 VA dan potongan 50% untuk 900 VA, bantuan sembako selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Bantuan itu ada, tapi tidak cukup. UUD 1945 pasal 34 ayat (1) menyatakan bahwa "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara". Terlebih dalam wabah virus corona ini, UU No. 6 Tahun 2018 pasal 55 menyatakan "Selama dalam Karantina Wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat". Dengan tidak diberlakukannya UU ini dan akhirnya diputuskan Pembatasan Sosial Berskala Besar, kita bisa menilai bahwa memang negara ini tidak sanggup membiayai kehidupan masyarakatnya meski dalam keadaan wabah atau tidak, atau pertimbangan lain dari pemerintah yang bisa mereka keluarkan.

Cukup-cukup, tarik-tarik, jangan keatas, liat kesamping liat kebawah, gimana lingkungan sekitar? Bantu-bantu apa yang bisa dibantu, ulurkan tangan berikan bantuan, jangan lupa cuci tangan. Tidak ada bantuan yang bisa dibilang kecil, ajak yang mau bergerak, upayakan untuk memenuhi kebutuhan. Penjarahan dan kerusuhan bisa terjadi, jaga lingkungan untuk peduli dan saling mengerti, buat dapur umum tapi ingat tetap harus hati-hati. Kolektif, tidak bisa kolektif, berikan himbauan, jangan sampai tidak ada rasa peduli, menimbun untuk diri sendiri, terhindar dari corona tapi terjangkit penyakit hati. Jadi

"Saat bumi sedang memulihkan diri, langit sedang mengeluarkan misteri, hati-hati dengan hati."

-------------------
#manusiawi
#manusiamenulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yailah Kampus

Pejabat Santuy!