Pejabat Santuy!
Disaat-saat itu saya memutuskan untuk pergi kemanapun yang saya inginkan, meninggalkan segala yang mengikat dan mencari pandangan yang bisa saya jadikan harapan, sampailah pada satu sisi saya yakin saya harus kembali, dengan dasar pada saat saya mengambil keputusan, kenapa hal dasar itu menghilang di kepala pada saat masalah bermunculan, kenapa saya melupakannya, setelah saya ingat, hal itu langsung saya ikat, dengan momen yang tepat saya kembali di keadaan yang sedang tidak sehat, saya berharap saya bisa jadi obat.
Hari-hari itu membuat saya mengerti apa yang harus saya lakukan ke depan, susun menyusun rencana dan tujuan, prioritas 7.30 dan 10.50, bahkan salah satunya saya ingin mendapatkan angka 0, di titik inilah kegamangan itu hilang. Selang tiga minggu dari kegamangan itu hilang, tiba-tiba ia kembali, seakan pintu-pintu terbuka sangat lebar dan ia bisa masuk lewat mana saja. Ya, titik takut itu kembali dengan tools yg jauh lebih kuat "Corona" membuat takut khawatir dan sepi kembali.
Corona menginvasi Dunia. Dunia (Media dan Nyata), biasanya kan cuma media, kenyataanya biasa aja. Tidak untuk Corona kawan-kawan, "saya seperti ke neraka dan kembali lagi" Menurut Tiger Ye pemuda Wuhan berumur 21th (dikutip dari kompas.com). Saya pernah sakit pernapasan, yang membuat dada saya terasa sempit dan sulit untuk bernapas, selang-selang pernapasan di hidung seperti menyumbat padahal mengeluarkan oksigen, nyeri otot di semua sendi, panas tinggi seperti mendidih, lidah terasa pait, makanan bagaikan duri, yang menusuk saat melewati tenggorokan. Itu adalah sakit paru-paru kotor, DBD dan Tifus.
Sumber-sumber yang saya baca menyatakan Corona tidak lebih ringan dari itu, saat itu lah saya bisa mengerti mengapa orang-orang ingin mengakhiri hidupnya, terlebih jika mereka sudah tidak memiliki harapan sembuh. Melihat video Bapak Menteri Perhubungan yang tersebar di sosial media menggambarkan bagaimana sulitnya berada di kondisi seperti itu, dukungan moril, semangat, harus terus datang dari kita dan timbul di diri pasien.
James Gallagher, Koresponden BBC bidang kesehatan dan sains menulis bagaimana virus ini menyerang tubuh. Pertama, virus menginfeksi sel-sel yang melapisi tenggorokan, saluran udara, dan paru-paru Anda, lalu mengubahnya menjadi "pabrik virus corona" yang memuntahkan sejumlah besar virus baru dan terus menginfeksi lebih banyak sel, masa inkubasi atau waktu antara infeksi dan gejala muncul sangat bervariasi, tetapi rata-rata lima hari. Gejala utamanya adalah demam dan batuk. Nyeri otot, sakit tenggorokan, dan sakit kepala semuanya mungkin terjadi, tetapi tidak selalu. Batuk akibat virus corona, pada mulanya adalah batuk yang kering dan ini mungkin disebabkan oleh iritasi sel ketika sel itu terinfeksi oleh virus. Gejala-gejala ini diobati dengan beristirahat, mengonsumsi banyak cairan dan parasetamol. Anda tidak akan memerlukan perawatan di rumah sakit, infeksi ini menjangkit 8 dari 10 orang yang terpapar.
Pada tahap kritis, tubuh mulai gagal dan ada peluang nyata kematian, masalahnya adalah sistem kekebalan tubuh yang lemah dan virus berhasil menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Keadaan ini membuat tekanan darah turun ke tingkat rendah yang berbahaya dan organ-organ berhenti bekerja atau dengan kata lain gagal total, Sindrom gangguan pernapasan akut yang disebabkan oleh peradangan di paru-paru, membuat tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup, menghentikan fungsi ginjal yang bekerja untuk membersihkan darah. Perawatan pada tahap ini akan melibatkan banyak alat kesehatan, dan dapat mencakup Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO) untuk membantu pernapasan, paru-paru buatan yang mengeluarkan darah dari tubuh melalui tabung tebal, menampung oksigen dan memompanya kembali. Tetapi pada akhirnya kerusakan dapat mencapai tingkat fatal di mana organ tidak lagi dapat menjaga tubuh tetap hidup.
Takut, khawatir, dan gambaran di atas pasti sudah cukup membuat kita semua cemas, namun ternyata tidak semua orang mencemaskannya, terutama orang-orang yang menentukan kebijakan atas nasib kesehatan publik. Pejabat yang meremehkan virus ini (santuy) dan akhirnya merusak negerinya sendiri. Diantaranya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan "Saya tidak mengatakan ini tidak penting. Tapi mari jangan berlebihan. Virus corona tidak akan mempengaruhi negara untuk jangka panjang dan itu akan pergi," kemudian penasihat tertinggi iran Mohammad Mirmohammadi meninggal akibat virus itu, dan sebanyak 23 anggota parlemen Iran ikut terserang virus tersebut, dan sekarang iran menjadi salah satu negara dengan kasus terbanyak di dunia.
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menolak masukan Asosiasi Medis Korea untuk membatasi lalu lalang Warga Negara China ke dalam Korsel. Pada 20 Februari, Moon menelpon Xi Jinping, Presiden China, menyampaikan bahwa Korsel akan selalu membantu China menghadapi kesulitannya. Malamnya, ia dan istri menggelar pesta chapaguri untuk sutradara dan bintang film Parasite. Di malam pesta itu, jumlah penderita Corona di Korsel meningkat dua kali lipat. Satu penderita meninggal. Dalam 36 jam berikutnya, jumlah penderita meningkat dari 104 menjadi enam ratus.
Santuy kan?
Begitu pula dinegara saya Indonesia, menjadi negara yang terserang virus corona setelah negara-negara lain lebih dulu terserang, seharusnya menjadi keuntungan tersendiri bagi negara Indonesia, terkait pengetahuan pengecekan, penentuan gejala, bahkan sampai pada titik penerapan kebijakan yang tepat untuk diberlakukan. Tetapi malah sebaliknya seakan pejabat negara tidak mendapat keuntungan apapun untuk menjaga masyarakat nya. Pengawasan di bandara yang bisa dibilang ala kadarnya, dalam Akun instagramnya Melanie Subono menyampaikan pengalamannya yang baru saja pulang dari Spanyol, dengan harapan ketika pulang akan di cek atau diperiksa, namun sesampainya di bandara pengisian dan penyerahan formulir itu diserahkan pada penumpang itu sendiri, setelah itu tidak ada pengawasan atau pemeriksaan bahkan tidak ada arahan atas apa yang perlu dilakukan. Sulit bagi saya untuk mengatakan ini tidak meremehkan.
Seluruh masyarakat harus terjangkit virus Corona, agar tubuh masyarakat membentuk imunnya sendiri dan kuat akan virus ini. Bukankah ini senada dengan kebijakan promosi pariwisata disaat dunia sedang mencekam dan kalut akan virus korona.Berharap turis yang gagal mengunjungi negara-negara yang sudah terjangkit virus akhirnya beralih ke Indonesia?. Senin, 02 Maret 2020 di Istana Negara Presiden menjelaskan bahwa pemberian diskon tiket pesawat dan sejumlah insentif tarif hotel untuk 10 daerah wisata, tidak akan menambah penyebaran virus Corona di Indonesia. Ya, 02 Maret 2020, saat kasus virus Corona pertama kali muncul dan menjangkit dua warga Indonesia.
Ditambah lagi dengan cara komunikasi pejabat yang kurang tepat, seharusnya memberikan ketenangan dan keamanan, justru malah menimbulkan keresahan dan kesannya meremehkan. Dari mulai menyatakan negatif tanpa memberitahukan proses pemeriksaan yang dijalani, pernyataan tentang virus Corona adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri tetapi tidak menjelaskan tentang perawatan dan langkah-langkah yang perlu dilakukan.
Para perantau dari tiap-tiap daerah banyak yang telah pulang ke kampungnya, adakah pengawasan? Atau pengecekan di daerah nya masing-masing?
Update Corona 5 April 2020: 2.273 Kasus Positif, 198 Meninggal, 164 Sembuh.
Pada akhir Mei, BIN memproyeksikan terdapat 95.451 kasus, kemudian bertambah menjadi 105.765 pada Juni, dan 106.287 pada akhir Juli. Proyeksi ini bisa tak terjadi jika Indonesia melakukan pencegahan serius.
-------------------
#manusiawi
#manusiamenulis
#manusiawi
#manusiamenulis

Komentar
Posting Komentar